Tangan hitam yang kasar itu...Peluh di dahi yang menitis itu...Kaki yang mengayuh tanpa henti itu...Mahu mencari setitis nikmat tuhan...Rezeki yang melimpah limpah...Teruskan juga walaupun jasad sudah tidak bermaya mahu bersaing dalam dunia kapitalis ini...Aku melihat...Hanya mampu dari jauh...Beca yang umurnya itu mungkin lebih tua daripada aku dikayuh...Perlahan lahan...Penuh hati hati...si tua itu berhenti di bahu jalan...Menunggu kalau kalau ada yang mahu menaiki becanya...Kelihatan senyuman mula terbit di bibir si tua apabila ada seorang pemuda menaiki becanya...Si tua terusan mengayuh menuju ke destinasi yang diberitahu oleh pemuda itu...Si tua dan becanya mulai hilang dari pandangan...Dan aku masih di satu sudut menunggu bas...
-Kelantan : sembilan / dua / tiga belas-
-Kelantan : sembilan / dua / tiga belas-
Comments
Post a Comment